Jualan buku dan LKS ‘trend’ di Cianjur

Beberapa siswa sedang mengantre di Tempat penjualan buku SMPN 1 Cibeber.
Cianjur, NM
Walau sudah ada larangan dari pemerintah soal penjualan buku pelajaran dan LKS namun hal tersebut masih saja marak terjadi di Kabupaten Cianjur.
Salah satu contohnya adalah praktek penjualan buku pelajaran untuk siswa SMP yang terjadi di Desa Cihaur RT01 RW03 Kecamatan Cibeber.
Bertempat di toko buku Ardian Perdana, para siswa SMPN 1 Cibeber berduyun-duyun masuk ke toko yang lebih layak di sebut kios, karena kecil dan kumuhnya tempat tersebut. Bahkan sebagian dari para murid itu terpaksa mengantre menunggu giliran masuk untuk membeli buku pelajaran yang di butuhkan.
Salah seorang siswi kelas 3 SMPN 1 Cibeber, sebut saja Bunga, menuturkan dia membeli tiga buah buku. Dua diantaranya buku pelajaran IPA dan Fisika dengan harga antara Rp 8 ribu dan Rp 13 ribu rupiah.
Bunga beserta murid lainnya diperintahkan guru mereka
untuk membeli buku pelajaran di toko tersebut, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka bisa mendapatkan semua buku pejaran yang dibutuhkan secara gratis tanpa harus membeli.
Ketika permasalahan ini hendak di konfirmasikan kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Cibeber Kabupaten Cianjur, yang bersangkutan tidak bersedia menemui wartawan News Mertro dengan berbagai alasan.
Begitu juga dari Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur baik Kadis, Sekretaris maupun Kabid SMP tidak ada di tempat. Salah seorang staf  mengatakan kepada News Metro bahwa para pejabat yang akan di temui sudah pulang, padahal pada saat itu jam masih menunjukan pukul 14.30 siang.
Kenyataan ini membuat berang aktivis Jaringan Desa (Jardes) Dedi (39). Dedi mengungkapkan bahwa ada ketidak mungkinan bila Kepala Sekolah dan para pejabat teras Disdik Cianjur tidak mengetahui praktek penjualan buku gratis di sekolah – sekolah di setiap tingkatan, dari mulai SD, SMP sampai SMA. “Seharusnya pihak Kejaksaan Cianjur lebih proaktif dalam hal ini dan segera memanggil, memeriksa dan memenjarakan para oknum penjual buku yang seharusnya gratis itu.” Ungkap Dedi saat di temui di kantornya.
Dedi menambahkan, Kalau para oknum tersebut beralasan hal tersebut dilakukan karena kurangnya kesejahteraan yang mereka dapatkan, tuntut saja Negara, jangan para murid yang jadi sasaran. Orang tua murid itu tidak semuanya mampu,” ungkap Dedy kesal. (Ruslan/ Andri)

Share this article :

Popular News

 
Support : Pedoman Media Ciber | Undang Undang PERS | Redaksi
Copyright © 2011-2014. NEWS METRO NASIONAL - All Rights Reserved
Created by YusmanH| Penerbit CV.METRO UTAMA|
Login