Warga Desa Wotan Menuntut Keadilan


Dusun Bombong  yang mendambakan perhatian  pemerintah Kab. Pati
Pati, News Metro Online – Paska tawuran warga antara dua desa di kecamatan Sukolilo yakni Wotan dan dusun Bombong, Baturejo pada 18 September 2010 lalu, kini berdampak luar biasa pada aktifitas di kantor desa Wotan, kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati yang  nyaris lumpuh. Pasalnya, sejumlah aparat kantor desa Wotan dan sejumlah warganya kini harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pati setelah di vonis oleh pengadilan setempat karena dianggap sebagai pihak yang turut memprofokasi aksi tawuran massal tersebut.
Sejumlah warga Wotan yang diduga menjadi korban penipuan
Menurut Kades Wotan, Karnomo dan beberapa warga Wotan lainnya, penangkapan yang dilakukan aparat Polres Pati terhadap 8 orang warga Wotan pada akhir tahun 2010 lalu dinilai cacat hukum. Karena banyak kejanggalan di sana. Ditambah lagi pada pertengahan Agustus 2011 kemarin satu orang lagi aparat desa Wotan kembali ditangkap polisi. Banyak warga yang menuturkan bahwa ke 9 orang tadi justru tidak terlibat dalam aksi tawuran tersebut. Mereka bersikukuh akan tetap akan menuntut keadilan kendati 8 orang diantaranya sudah divonis oleh Pengadilan Negeri Pati.
“Kami merasa hukum tidak berpihak kepada kami, warga kami ditangkap tanpa ada bukti yang jelas, bahkan dua orang aparat desa kami yakni Sukarman selaku Kepala Dusun dan Cokro sebagai aparat desa juga ditangkap padahal secara fakta mereka belum tentu terbukti bersalah, kami menuntut keadilan,” tutur Karnomo yang diamini sejumlah warganya.
Kedelapan warga desa Wotan yang ditangkap dan kini tengah menjalani masa hukuman di Lapas Pati yakni Sutarman selaku Kepala Dusun di vonis selama 8 tahun penjara, Nurmat (warga) divonis 8 tahun penjara, Arifin (warga)  divonis 7 tahun penjara, Bambang (warga) divonis 6 tahun, Imam Toba (warga) divonis 6 tahun, Handoko (warga) divonis 6 tahun, Joko (warga) 4 tahun, dan Pariyanto dijatuhi hukuman selama 6 tahun. Sedangkan satu orang lagi yakni Cokro  salah seorang perangkat desa Wotan juga ditangkap pada medio Agustus 2011 kemarin dan kini masih berstatus tahanan di Polres Pati. Sebagai catatan tambahan, Bambang Riyanto dan Imam Toba tercatat sebagai PNS di lingkungan kerja Kabupaten Pati.
Kekecewaan Karnomo dan warga desa Wotan selama ini ternyata tidak mendapat respon positif dari Bupati Pati. Rencananya, Karnomo dan aparat desa yang tersisa lainnya akan menyerahkan stempel kantor desa Wotan kepada Bupati Pati sebagai bentuk kekecewaan mereka selama ini.
“ Buat apa ada kantor desa kalau aparatnya ditangkap dan diintimidasi, kinerja kami nyaris lumpuh, kami minta Bupati kami, Tasiman, untuk membantu memecahkan masalah ini jangan hanya jadi penonton saja,” ujar Karnomo tegas.
Kini warga desa Wotan mengaku selalu dibayangi rasa ketakutan dan ketidak pastian akibat banyaknya warga mereka yang ditangkap dan dipidanakan tanpa bukti yang jelas. Setiap hari mereka selalu dirundung rasa was-was karena khawatir akan ditangkap polisi.
Mafia Hukum
Ditengah suasana mencekam yang membayangi warga Wotan akibat sejumlah warganya yang di penjara karena terlibat kasus tawuran, ternyata ada pihak-pihak tertentu yang diduga mencari keuntungan pribadi dari situasi yang tidak kondusif di desa yang berpenduduk sekitar 8000 jiwa ini.
Mereka menyebut dua nama yakni Setu Haryanto dan Wido Lekmono. Kedua pria yang pernah gagal dalam bursa pemilihan Kepala Desa Wotan pada tahun 2008 ini diduga telah memanfaatkan kasus ini sebagai bisnis dengan memungut sejumlah uang bernilai puluhan juta rupiah dari beberapa keluarga terpidana. Alasannya, Haryanto dan Wido mengaku  mampu membantu meringankan hukuman para terpidana agar tak terlalu lama mendekam dipenjara. Namun beberapa warga justru merasa ditipu dua orang tersebut. Hal ini terungkap dari pengakuan beberapa warga di sana.
Murnomo (50) salah seorang warga di sana misalnya. Kepada News Metro, Murnomo  menuturkan bahwa ia telah menyerahkan sejumlah uang dengan nilai sekitar Rp 17 juta kepada Wido Lekmono. Saat itu, tutur Murnomo, ia ditawari Wido bantuan untuk meringankan hukuman bagi putranya, Handoko (18) yang kini divonis selama 6 tahun penjara. Murnomo awalnya bingung namun karena terus dibujuk akhirnya Murnomo pun terjerat rayuan Wido.
“Saya pak namanya orang bodoh, ndak ngerti hukum ya manut saja apa kata Wido, dia minta uang ya saya kasih biar pinjem-pinjem saudara, tapi nyatanya anak saya Handoko malah ndak diurus sekarang hukumannya malah berat, saya mau Wido bertanggungjawab atas perbuatannya,”, ungkap Murno.
Saat itu, lanjut Murnomo, ia menyerahkan uang tersebut secara bertahap kepada Wido disaksikan oleh menantunya (istri Handoko) dan seseorang bernama Pak Min. Namun hasil yang didapat setelahnya justru jauh dari janji yang di umbar Wido sebelumnya. Hukuman Handoko bukannya bertambah ringan malah bertambah berat hingga ia divonis 6 tahun penjara di Lapas Pati.
Tak hanya  Murno, warga Wotan lainnya, Bodo (55) dan Dayat alias Geger (48) juga mengaku menjadi korban rayuan Setu Haryanto. Bodo mengaku telah menyerahkan uang kepada Setu Haryanto sebesar Rp 15 juta dalam dua tahap. Pertama, Bodo mengaku menyerahkan uang sebesar Rp 10 juta, kedua sebesar Rp 5 juta. Uang itu diserahkan dirumah Setu Haryanto di desa Wotan. Pengakuan Bodo saat itu, ia didatangi Setu dan diiming-imingi keringanan hukuman bagi putranya, Arifin, yang saat itu masih dalam proses persidangan. Tapi belakangan nasib Bodo tak beda dengan Murnomo. Uang pun akhirnya melayang namun hukuman anaknya tetap bertambah berat yakni 7 tahun penjara. Begitupun dengan Dayat. Ia menuturkan saat itu Haryanto meminta uang sebesar Rp. 15.000.000 kepada Dayat, alasannya untuk membantu meringankan hukuman Parno adik kandung Dayat. Namun kata Dayat adiknya malah divonis lebih berat yakni selama 6 tahun. Artinya, janji Haryanto kepada dirinya palsu belaka.
Saat dikonfirmasi News Metro, beberapa waktu lalu, Haryanto membantah keras tuduhan jika dirinya menipu Dayat dan Bodo. Secara jujur ia mengakui kalau uang yang dibawa Bodo dan Dayat memang diserahkan dirumahnya namun ia tidak menerima uang tersebut. Uang itu diterima oleh Roni tokoh pemuda desa Wotan dan diserahkan ke seorang pengacara. Hal itu pun diakui Roni. Ia lah yang menerima uang tersebut yang konon katanya diserahkan kepada seorang pengacara. Namun para keluarga terpidana mengaku tak ada yang mengenal sosok pengacara tersebut.
Begitupun dengan Wido, saat dikonfirmasi adanya tuduhan dari Murnomo, Wido membantah. Tentang bukti selembar kwitansi yang ditandatangani Wido. Ia mengakui kalau kwitansi itu memang ia yang menandatangani, namun kwitansi itu hanya bersifat kamuflase (pura-pura) belaka. Karena tidak ada dana yang ia terima. Semata hanya untuk mengelabui para mandor agar mereka mau mengucurkan dana untuk Handoko. Sekedar informasi, mandor dalam istilah mereka yakni sejumlah warga Wotan yang berprofesi sebagai pengusaha di Jakarta. Umumnya mereka cukup sukses.
“Saya memang tandatangan kwitansi penerimaan uang sebesar Rp 15 juta dari pihak Murnomo tapi ia tidak menerima uang sepeserpun, dan kwitansi itu tidak bermaterai,” ujar Wido. Kwitansi itu, tambahnya, hanya untuk membohongi para mandor atau warga Wotan yang berprofesi sebagai mandor bangunan di Jakarta agar para Mandor itu mau keluar uang membantu Murnomo, demikian alasan Wido.
Dalam pertemuan dengan News Metro saat itu selain Haryanto dan Wido Lekmono juga  hadir Kapolsek Sukolilo, AKP. M. Mansur, kanit Reskrim Polsek Sukolilo, IPTU. Maskub, seorang petugas Intel Polres Pati, Kuslan dan beberapa warga lainnya. Kabarnya, para aparat polisi itu diundang Haryanto saat mendengar bahwa pihak News Metro akan mewawancarai dirinya. Pertemuan itu berlangsung dikediaman Haryanto di desa Wotan.
Dari info yang diperoleh News Metro dari beberapa warga Desa Wotan, Haryanto dan Wido Lekmono pada tahun 2008 lalu pernah turut mencalonkan diri dalam bursa Pilkades di desa Wotan. Namun dalam perhitungan suara, keduanya tertinggal jauh oleh pesaing mereka yakni Karnomo yang akhirnya terpilih sebagai Kades Wotan hingga saat ini. Selain itu, kabar tak sedap atas dua orang ini juga beredar. Keduanya dicurigai sebagai mata-mata pihak Polres Pati. Dan diduga sering menakut-nakuti warga dengan isu akan ada penangkapan susulan terhadap warga dan sejumlah aparat staf kantor desa Wotan.
Salah seorang aparat polisi disana yang enggan disebut namanya mengakui adanya kabar miring tersebut. Ia bahkan mengatakan, banyak warga desa Wotan yang kurang menyukai sepak terjang Wido Lekmono dan Haryanto.
Para warga yang merasa ditipu tadi rencananya akan melaporkan Wido Lekmono dan Haryanto ke pihak berwajib dalam waktu dekat ini. (Norman/Johny)
Share this article :

Popular News

 
Support : Pedoman Media Ciber | Undang Undang PERS | Redaksi
Copyright © 2011-2014. NEWS METRO NASIONAL - All Rights Reserved
Created by YusmanH| Penerbit CV.METRO UTAMA|
Login